MERASA CUKUP DALAM BERAMAL

Selasa, 17 Agustus 2010


Kadang kita merasakan hal yang sama sehingga kita menganggap bahwa amal kita cukup bagi diri kita. Akan tetapi rupanya amal kita belum apa-apa. Disinilah pentingnya kita senantiasa mengevaluasi diri dan selalu merasa pada diri ini bahwa kita masih lemah dan kita perlu perbaikan.

Dhahak Ad Damiri, seorang ulama termasyhur, selain sebagai pendidik masyarakat beliau juga dikenal
sebagai pengrajin kain. Untuk membiayai dakwahnya ia ingin membekali sendiri. Sehingga beliau membuatkan kain dengan hati-hati dan cermat agar kainnya bagus dan bisa diberikan harga yang tinggi. Maka ia pun mengerjakannya dengan penuh ketelatenan.
Sesudah jadi kain tenunan yang beliau buat. Ia pun bergegas pergi ke toko kain yang ternama di kotanya. Toko tersebut dikenal barang-barang yang diperjualbelikannya karena memang sangat bermutu. Tentu harganya pun tinggi.
Sang Syaikh menuju toko kain tersebut berharap kainnya dapat dibeli dengan harga yang tinggi. Karena menurut beliau kain yang telah dibuatnya dengan penuh kehati-hatian pasti bisa dihargakan mahal. Seperti kain-kain yang biasa dijual di tempat tersebut.
"Saya ingin jual kain saya ini dengan harga 25 dirham," aju sang syaikh kepada pemilik toko kain itu sambil menunjukkan
kain buatannya.
"Coba saya lihat terlebih dahulu kain buatan syaikh," jawab pemilik toko seraya mencermati kain tenunan itu.
Setelah dicermati dengan seksama dan agak lama, pemiliki toko itu kemudian menetapkan harganya. "Yah syaikh, saya
cuma bisa beri harga untuk kain anda sebesar 5 dirham saja," kata pemilik toko itu.
Mendengar kalimat itu Dhahak Ad Damiri meneteskan air mata. Beliau tampak menangis. Pemilik toko pun lantas
melanjutkan pernyataannya lagi untuk menenangkan sang syaikh yang menangis. "Kalau begitu saya naikkan 7 dirham,
janganlah anda menagis ya syaikh. Itu harga yang amat pantas bagi kain buatanmu setelah saya amati," kata pemilik toko menetapkan harga kain itu.
Sang syaikh masih tetap menangis dengan deraian air matanya yang tak kering.
"Sudahlah ya syaikh jangan menangis lagi, saya hanya berani membeli kain anda dengan harga 8 dirham. Tidak bisa lagi dinaikkan dari harga tersebut. Bila anda ingin menerima harga itu saya akan membelinya. Bila anda tidak bersedia dengan harga tersebut yah silahkan anda ambil kembali," jawab pemilik toko menjelaskan perihal harga kain tenunan buatan sang syaikh.
Dhahak Ad Damiri pun menjelaskan, "Saya menangis bukan karena harga kain yang kau tetapkan 8 dirham itu. Akan tetapi yang membuat saya menangis adalah saya sudah merasa membuat kain itu dengan sangat teliti dan cermat. Dan saya melihat tidak ada celah kekurangan dan cacat dari itu. Akan tetapi ketika di hadapan engkau orang yang paham tentang kain, ternyata kain saya engkau hargakan dengan nilai tertingginya 8 dirham. Padahal harga yang saya tawarkan 25 dirham."
"Lalu saya melihat pada amal ibadah yang telah saya lakukan. Saya merasa telah banyak amal ibadah saya. Namun bila dinilai oleh Allah SWT, sangat mungkin ibadah yang telah saya lakukan masih banyak kekurangannya. Mungkin juga nilai ibadah saya diberi harga yang rendah," isak sang syaikh.
Rupanya Dhahak Ad Damiri menangisi amal ibadahnya. Ia merasa telah banyak amalnya akan tetapi ketika dihadapan Allah SWT. Mungkin ibadahnya tidak ada nilai yang berarti. Ia sedang mengevaluasi dirinya yang merasa lebih ternyata ia merasakan kekurangan ibadahnya setelah mendengar harga kain tenun yang ia buat.
Kadang kita merasakan hal yang sama sehingga kita menganggap bahwa amal kita cukup bagi diri kita. Akan tetapi rupanya amal kita belum apa-apa. Disinilah pentingnya kita senantiasa mengevaluasi diri dan selalu merasa pada diri ini bahwa kita masih lemah dan kita perlu perbaikan. "Evaluasilah dirimu sebelum dievaluasi." (DH. Al Yusni)



0 komentar: