Alkisah pada zaman itu di ceritakan seorang alim (orang yang berilmu),bahkan ada sebuah keterangan yang menyebutkan bahwa beliau termasuk jajaran waliyullah, dia bernama Luqmanul Hakim. Beliau (Luqmanul Hakim) bersama anaknya hendak melaksanakan perjalanan jauh…bersama kendaraannya yaitu seekor keledai (kuda kecil)., dimana mereka berdua bersama kendaraanya menjadi bahan gunjingan dan bahan ejekan orang-orang yang berada di daerah (kampung/kota) yang mereka lalui. Alur ceritanya sebagai mana di atas. Pada suatu hari akan bepergian jauh dengan anaknya, beliau membawa seekor keledai sebagai kendaraannya, namun tak di sangka perjalanan tersebut menjadi sebuah pengalaman dan pelajaran yang amat berharga dalam mengarungi kehidupan,
Isi cerita :
Ketika melewati sebuah daerah A, Lukmanul Hakim mengendarai keledai, sementara anaknya berjalan sambil memegang tali kendali (sejenis tambang) keledai tersebut. Apa dikata, orang-orang mengejek di sepanjang jalan yang dilalui, orang-orang itu berkata : “ Enak betul ya….,ayahnya di atas kendaraan sementara anaknya berjalan sambil mamegang kendali…Ayah macam apa itu ? ”.
Kemudian ketika melewati sebuah daerah B, merekapun berubah posisi, sang anak gentian yang menaiki keledai sementara Lukmanul Hakim turun dan berjalan sambil memegang tali kendali keledai tersebut . Lagi-lagi Orang-orangpun bergunjing : “ Enak betul ya..,Anaknya di atas kendaraan sementara Ayahnya berjalan sambil mamegang kendali…Anak macam apa itu, kaya gak tau sopan santun saja ”.
Kemudian ketika melewati sebuah daerah C, mereka berubah posisi lagi, mereka berdua (luqmanunul hakim dan anaknya) naik bersama-sama di atas keledai tersebut, namun apa di kata Orang-orang pun berkata :“ Anak dan ayah macam apa itu ? keledai kecil kok ditumpangi berdua…..kaya tidak punya perasaan saja ”.
Setelah itu kemudian melewati daerah D, merekapun berubah posisi lagi, yaitu mereka berdua berjalan kaki,keledainya berjalan di belakang.dan mereka hanya memeganga tambang kendali dari depan, Orang-orang pun berkata : “ masa allah…itu anak dan ayah kaya gak punya pikiran saja, masa mereka berjalan..sementara keledai gak di tumpangi….kan mubadzir itu keledai ”.
Inti kesimpulan :
Dari alur kisah di atas kita dapat melihat dan menilai, bahwasannya proses kehidupan kita tak akan lepas dari adanya pandangan dan penilain dari orang-orang, yang tentunya berbeda-beda. Oleh karena itu, jelas buat kita hal tersebut merupakan sebuah proses kehidupan yang amat berharga walaupun terkadang berseberangan (dari adanya setiap pandangan orang-orang) dengan hati naluri dan prinsip kehidupan kita, namun yang penting buat kita naluri hati, prinsip hidup dan asa yang ada dalam hati ini biarkanlah berjalan selagi semua itu masih ada dalam jalur agama kita (tidakbertentangan). Karena jikalau kita hanya mendengar dan mengikuti setiap kata-kata dari setiap orang, terkadang jiwa dan hati kita ini ada pro dan kontra, bahkan terkadang kita merasa bingung, bahkan kecewa yang berlebihan, yang penting selagi kita ada dalam jalur yang benar mengapa tidak kita jalani, biarkanlah mereka berkata. Kita harus ingat kesempuraan bukan milik kita, keilmuaan yang tinggi di manusia tidaklah ada apa-apanya di pandangan yang maha kuasa, kita hanya manusia biasa yang hanya bisa berusaha dan berharap, Tuhan yang akan menentukan segalanya.
Tampilkan postingan dengan label tausiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tausiyah. Tampilkan semua postingan
Kisah Luqmanul Hakim Dan Realiata Kehidupan
Selasa, 17 Agustus 2010
Diposting oleh
eddy
di
19.21
0
komentar
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label:
tausiyah
MERASA CUKUP DALAM BERAMAL
Kadang kita merasakan hal yang sama sehingga kita menganggap bahwa amal kita cukup bagi diri kita. Akan tetapi rupanya amal kita belum apa-apa. Disinilah pentingnya kita senantiasa mengevaluasi diri dan selalu merasa pada diri ini bahwa kita masih lemah dan kita perlu perbaikan.
Dhahak Ad Damiri, seorang ulama termasyhur, selain sebagai pendidik masyarakat beliau juga dikenal
sebagai pengrajin kain. Untuk membiayai dakwahnya ia ingin membekali sendiri. Sehingga beliau membuatkan kain dengan hati-hati dan cermat agar kainnya bagus dan bisa diberikan harga yang tinggi. Maka ia pun mengerjakannya dengan penuh ketelatenan.
Sesudah jadi kain tenunan yang beliau buat. Ia pun bergegas pergi ke toko kain yang ternama di kotanya. Toko tersebut dikenal barang-barang yang diperjualbelikannya karena memang sangat bermutu. Tentu harganya pun tinggi.
Sang Syaikh menuju toko kain tersebut berharap kainnya dapat dibeli dengan harga yang tinggi. Karena menurut beliau kain yang telah dibuatnya dengan penuh kehati-hatian pasti bisa dihargakan mahal. Seperti kain-kain yang biasa dijual di tempat tersebut.
"Saya ingin jual kain saya ini dengan harga 25 dirham," aju sang syaikh kepada pemilik toko kain itu sambil menunjukkan
kain buatannya.
"Coba saya lihat terlebih dahulu kain buatan syaikh," jawab pemilik toko seraya mencermati kain tenunan itu.
Setelah dicermati dengan seksama dan agak lama, pemiliki toko itu kemudian menetapkan harganya. "Yah syaikh, saya
cuma bisa beri harga untuk kain anda sebesar 5 dirham saja," kata pemilik toko itu.
Mendengar kalimat itu Dhahak Ad Damiri meneteskan air mata. Beliau tampak menangis. Pemilik toko pun lantas
melanjutkan pernyataannya lagi untuk menenangkan sang syaikh yang menangis. "Kalau begitu saya naikkan 7 dirham,
janganlah anda menagis ya syaikh. Itu harga yang amat pantas bagi kain buatanmu setelah saya amati," kata pemilik toko menetapkan harga kain itu.
Sang syaikh masih tetap menangis dengan deraian air matanya yang tak kering.
"Sudahlah ya syaikh jangan menangis lagi, saya hanya berani membeli kain anda dengan harga 8 dirham. Tidak bisa lagi dinaikkan dari harga tersebut. Bila anda ingin menerima harga itu saya akan membelinya. Bila anda tidak bersedia dengan harga tersebut yah silahkan anda ambil kembali," jawab pemilik toko menjelaskan perihal harga kain tenunan buatan sang syaikh.
Dhahak Ad Damiri pun menjelaskan, "Saya menangis bukan karena harga kain yang kau tetapkan 8 dirham itu. Akan tetapi yang membuat saya menangis adalah saya sudah merasa membuat kain itu dengan sangat teliti dan cermat. Dan saya melihat tidak ada celah kekurangan dan cacat dari itu. Akan tetapi ketika di hadapan engkau orang yang paham tentang kain, ternyata kain saya engkau hargakan dengan nilai tertingginya 8 dirham. Padahal harga yang saya tawarkan 25 dirham."
"Lalu saya melihat pada amal ibadah yang telah saya lakukan. Saya merasa telah banyak amal ibadah saya. Namun bila dinilai oleh Allah SWT, sangat mungkin ibadah yang telah saya lakukan masih banyak kekurangannya. Mungkin juga nilai ibadah saya diberi harga yang rendah," isak sang syaikh.
Rupanya Dhahak Ad Damiri menangisi amal ibadahnya. Ia merasa telah banyak amalnya akan tetapi ketika dihadapan Allah SWT. Mungkin ibadahnya tidak ada nilai yang berarti. Ia sedang mengevaluasi dirinya yang merasa lebih ternyata ia merasakan kekurangan ibadahnya setelah mendengar harga kain tenun yang ia buat.
Kadang kita merasakan hal yang sama sehingga kita menganggap bahwa amal kita cukup bagi diri kita. Akan tetapi rupanya amal kita belum apa-apa. Disinilah pentingnya kita senantiasa mengevaluasi diri dan selalu merasa pada diri ini bahwa kita masih lemah dan kita perlu perbaikan. "Evaluasilah dirimu sebelum dievaluasi." (DH. Al Yusni)
sebagai pengrajin kain. Untuk membiayai dakwahnya ia ingin membekali sendiri. Sehingga beliau membuatkan kain dengan hati-hati dan cermat agar kainnya bagus dan bisa diberikan harga yang tinggi. Maka ia pun mengerjakannya dengan penuh ketelatenan.
Sesudah jadi kain tenunan yang beliau buat. Ia pun bergegas pergi ke toko kain yang ternama di kotanya. Toko tersebut dikenal barang-barang yang diperjualbelikannya karena memang sangat bermutu. Tentu harganya pun tinggi.
Sang Syaikh menuju toko kain tersebut berharap kainnya dapat dibeli dengan harga yang tinggi. Karena menurut beliau kain yang telah dibuatnya dengan penuh kehati-hatian pasti bisa dihargakan mahal. Seperti kain-kain yang biasa dijual di tempat tersebut.
"Saya ingin jual kain saya ini dengan harga 25 dirham," aju sang syaikh kepada pemilik toko kain itu sambil menunjukkan
kain buatannya.
"Coba saya lihat terlebih dahulu kain buatan syaikh," jawab pemilik toko seraya mencermati kain tenunan itu.
Setelah dicermati dengan seksama dan agak lama, pemiliki toko itu kemudian menetapkan harganya. "Yah syaikh, saya
cuma bisa beri harga untuk kain anda sebesar 5 dirham saja," kata pemilik toko itu.
Mendengar kalimat itu Dhahak Ad Damiri meneteskan air mata. Beliau tampak menangis. Pemilik toko pun lantas
melanjutkan pernyataannya lagi untuk menenangkan sang syaikh yang menangis. "Kalau begitu saya naikkan 7 dirham,
janganlah anda menagis ya syaikh. Itu harga yang amat pantas bagi kain buatanmu setelah saya amati," kata pemilik toko menetapkan harga kain itu.
Sang syaikh masih tetap menangis dengan deraian air matanya yang tak kering.
"Sudahlah ya syaikh jangan menangis lagi, saya hanya berani membeli kain anda dengan harga 8 dirham. Tidak bisa lagi dinaikkan dari harga tersebut. Bila anda ingin menerima harga itu saya akan membelinya. Bila anda tidak bersedia dengan harga tersebut yah silahkan anda ambil kembali," jawab pemilik toko menjelaskan perihal harga kain tenunan buatan sang syaikh.
Dhahak Ad Damiri pun menjelaskan, "Saya menangis bukan karena harga kain yang kau tetapkan 8 dirham itu. Akan tetapi yang membuat saya menangis adalah saya sudah merasa membuat kain itu dengan sangat teliti dan cermat. Dan saya melihat tidak ada celah kekurangan dan cacat dari itu. Akan tetapi ketika di hadapan engkau orang yang paham tentang kain, ternyata kain saya engkau hargakan dengan nilai tertingginya 8 dirham. Padahal harga yang saya tawarkan 25 dirham."
"Lalu saya melihat pada amal ibadah yang telah saya lakukan. Saya merasa telah banyak amal ibadah saya. Namun bila dinilai oleh Allah SWT, sangat mungkin ibadah yang telah saya lakukan masih banyak kekurangannya. Mungkin juga nilai ibadah saya diberi harga yang rendah," isak sang syaikh.
Rupanya Dhahak Ad Damiri menangisi amal ibadahnya. Ia merasa telah banyak amalnya akan tetapi ketika dihadapan Allah SWT. Mungkin ibadahnya tidak ada nilai yang berarti. Ia sedang mengevaluasi dirinya yang merasa lebih ternyata ia merasakan kekurangan ibadahnya setelah mendengar harga kain tenun yang ia buat.
Kadang kita merasakan hal yang sama sehingga kita menganggap bahwa amal kita cukup bagi diri kita. Akan tetapi rupanya amal kita belum apa-apa. Disinilah pentingnya kita senantiasa mengevaluasi diri dan selalu merasa pada diri ini bahwa kita masih lemah dan kita perlu perbaikan. "Evaluasilah dirimu sebelum dievaluasi." (DH. Al Yusni)
Diposting oleh
eddy
di
18.30
0
komentar
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label:
tausiyah
Langganan:
Postingan (Atom)
